Skip to main content

Batik Beras Basah, Hobi Yang Jadi Produk Unggulan Ekonomi Kreatif Kota Bontang

By 16 September 2021Berita

Batik Beras Basah, Hobi Yang Jadi Produk Unggulan Ekonomi Kreatif Kota Bontang

 

Di balik selembar kain, terlebih kain tradisional atau wastra selalu ada cerita sejarah yang panjang. Kisah yang umumnya berhubungan dengan perempuan dalam memanfaatkan sumberdaya lokal, menghasilkan serat dari tetumbuhan, memintal jadi benang dan kemudian merangkai menjadi lembaran kain dengan alat tenun bukan mesin.

Motifnya selain mengambarkan nilai dan kepercayaan tradisional, biasanya juga mencerminkan berbagai hal yang ada di lingkungan mereka, alam, flora dan fauna. Sedangkan bahan pewarna untuk menghasilkan komposisi yang indah diperoleh dari ekstraksi daun, kulit buah, kulit pohon atau umbi-umbian yang juga berasal dari sekitar tempat tinggalnya.

Tak heran jika untuk menghasilkan selembar kain diperlukan waktu yang lama terkadang sampai berbulan-bulan.

Kalimantan Timur mempunyai beberapa jenis kain tradisional yang ternama. Di Kutai Barat ada kain tenun ulap doyo, sementara Samarinda terkenal dengan kain tenun sarung Samarinda.

Namun beberapa tahun terakhir ini dikenal pula kain batik khas Kalimantan Timur. Salah satu kota yang mempunyai beragam motif batik khas Kalimantan Timur adalah Kota Bontang. Dari kota ini dikenal adanya batik kuntul perak, batik mangrove, batik etam, batik mutiara Kalimantan, batik daun jajar dan batik beras basah.

Jum’at, 30/04/2021 yang lalu, kesah.id berkesempatan mengikuti kunjungan Sri Wahyuni, Kepala Dinas Pariwisata Kaltim yang disertai oleh Erwiantono dan I Wayan Lanang,  tim ahli penyusunan Talanpekda {Peta Jalan Pengembangan Ekonomi Kreatif Daerah} Kalimantan Timur ke outlet dan workshop Batik Beras Basah.

Eko Wiji Rahayu menyambut dengan ramah dan disertai oleh suaminya mengajak rombongan untuk mengikuti room tour di gedung dua lantai yang terletak di jalan Letjen S. Parman, Kanaan, Bontang Barat, Kota Bontang.

Pada bagian depan terbagi dua ruang, satu ruang untuk Butik Ewid Collection, usaha yang lebih dahulu ditekuni oleh Wiji sebelum mengembangkan batik. Ruang sebelahnya adalah outlet untuk memajang  kain, pakaian dan aksesories yang dibuat dari batik beras basah. Sementara di bagian belakang adalah area workshop untuk kegiatan membatik, seperti mengecap, mencanting dan kemudian memasak untuk meluruhkan malam, mewarnai serta menjemur.

Di ruang workshop terlihat ada 4 perempuan tengah asyik membatik. Satu orang membatik dengan cap pada kain yang dihamparkan diatas meja, sementara 3 perempuan lainnya memperbaiki motif pada kain dengan canting.

Kepada rombongan, Wiji menunjukkan tumpukan kain batik yang merupakan pesanan dari Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Bontang. Seperti diketahui, Walikota Bontang mewajibkan seluruh pegawainya untuk memakai baju batik produk Kota Bontang pada setiap hari Kamis.

Wiji yang ramah dan bersemangat itu menceritakan bagaimana muasalnya menekuni usaha batik. Sebagai orang yang menyukai desain dan mode serta berusaha dalam bidang itu tidaklah sulit baginya untuk memulai usaha batik.

Namun sebagai salah satu pioneer, Wiji kesulitan untuk mengembangkannya secara maksimal karena berjuang sendirian. Jalan terang mulai terbuka ketika Wiji kemudian mengenal Program Kemitraan dan Bina Lingkungan PT. Pupuk Kaltim.

Setelah bermitra dan menjadi binaan PKBL PKT, Wiji bukan hanya mendapatkan bantuan permodalan melainkan juga pembinaan dan pendampingan lewat serangkaian pelatihan serta promosi sehingga produk batik beras basah yang bermotif utama hutan dan biota laut itu kemudian menjadi salah satu ikon batik di Kota Bontang.

Sri Wahyuni, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim berbincang dengan Eko Wiji Rahayu, Owner Batik Beras Basah di area workshop/produksi batik beras basah.

Nama beras basah sendiri mengambil inspirasi dari destinasi wisata pesisir dan laut ternama di Kota Bontang. Beras basah adalah nama sebuah pulau yang berada di Selat Makassar, berpasir putih dan dikelilingi perairan dangkal. Kilauan pasirnya terlihat seperti gundukan beras yang basah.

Kini Wiji bukan hanya menghasilkan kain melainkan produk lain yang berbahan batik beras basah seperti pakaian, tas, sepatu dan aksesories fesyen lainnya. Wiji beserta timnya juga kerap diminta oleh PKT untuk menjadi instruktur pelatihan, menularkan ketrampilan dan inovasi kepada mitra binaan PKT.

Buah kerja keras dan ketekunan Wiji berbuah manis, batik beras basah kini sudah mendapat sertifikasi SNI untuk tiga jenis batik, yakni batik tulis, batik cap dan batik campuran. Dengan bekal SNI, batik beras basah siap untuk menjadi komoditas bukan hanya nasional melainkan juga global.

Dua puluh tahunan, Eko Wiji Rahayu menekuni ‘jalan batik’ dengan semua pencapaiannya. Hanya saja kerajinan batik bukanlah karya wastra yang lazim di tanah Kalimantan. Sehingga ada banyak bahan pendukung yang mesti didatangkan dari pulau Jawa.

Pun juga dengan sumber daya manusia yang terampil terutama dalam mencanting untuk menghasilkan batik tulis.

Semua itu membuat Wiji sulit untuk menghasilkan batik dalam jumlah besar dan waktu yang singkat.

Sementara soal harga, mungkin saja sulit untuk bersaing dengan batik-batik yang dihasilkan baik oleh pengrajin maupun produsen di Jawa.

Tapi itu bukan persoalan sebab di balik selembar kain batik selalu ada cerita, nilai, keunikan dan otentisitas yang membuat harga menjadi subyektif. Dan itulah essensi ekonomi kreatif dimana harga bukanlah penganti nilai bahan baku dan ongkos kerja melainkan penghargaan atas kreatifitas, karya dan karsa untuk selalu menghadirkan kebaharuan.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim disertai koordinator dan anggota tim ahli penyusunan talapekda berfoto bersama owner batik beras basah di rumah batik beras basah
admin

Author admin

More posts by admin